Berdiam diri di bawah naungan lautan hitam. Sendiri, menyepi dalam
senyapnya udara dingin yang menggigit. Aku tak tahan jika tak menatap
langit. Sekalipun leher ini sakit karenanya, aku... tak pernah berhenti
menatapnya. Jauh... terlihat jauh. Sama... seperti antara aku dan dia.
Kadang... aku tak mengerti dengan apa yang kulakukan. Puaskah aku dengan hanya menatapnya saja? Ah..., tentu... tidak.
Kerikil-kerikil serta batu yang kupijak, menyadarkanku akan lamunan yang
selama ini kukenang. Dalam heningnya malam yang menyayat, kini aku
tertunduk dengan perasaan sakit. Hati yang telah teriris... jiwa yang
telah padam. Akankah kutemukan nyala apiku lagi?
Beginilah..., apa yang harus kujalani. Berjalan... dan terus berjalan, seorang diri, melewati setiap malam senyap tanpa arti.
Tapi..., ketika kupejamkan mata ini, aku sadar... dia... selalu
menggenggam tanganku. Dia... bersamaku. Saat aku melangkah, dia berjalan
selangkah di depanku. Dia menghangatkanku dari rasa senyap yang dingin.
Dia... mengembalikan setiap kekosongan dalam jiwa. Sebuah pelengkap
yang begitu indah dalam kehidupan fana ini. Malam... tak selamanya sepi.
Sekalipun sendiri..., aku sadar... di ujung sana... ada seseorang yang
akan mengulurkan tangannya padaku...
Original Posted By CSnadychi from kaskus
Tidak ada komentar:
Posting Komentar